Netiporn Sanae-sangkhom meninggal dalam umur 28 tahun. Pada tahun 2020, dia membawa spanduk bertuliskan, \\”Apakah menurut Anda iring-iringan kendaraan beroda empat kerajaan menyebabkan ketidaknyamanan atau tak?\\” dikala melancarkan protes di Siam Paragon.
Aktivis Thailand yang ditahan atas tuduhan pencemaran nama baik kerajaan meninggal pada Selasa (14/5/2024), dikala melakukan mogok makan di dalam tahanan. Demikian disampaikan departemen pemasyarakatan kerajaan.
Netiporn Sanae-sangkhom, pegiat dari kategori pro-demokrasi \\”Thaluwang\\”, ditahan sebelum persidangan semenjak Januari.
Dia didakwa menurut https://www.madaboutrh.com/ undang-undang penghinaan kerajaan yang ketat di Thailand atas protes iring-iringan kendaraan beroda empat kerajaan pada tahun 2020, dikala puncak gerakan pro-demokrasi yang dipimpin oleh pemuda di kerajaan hal yang demikian.
Thailand mempunyai salah satu aturan lese-majeste paling ketat di dunia yang melindungi Raja Maha Vajiralongkorn dan keluarga dekatnya, di mana tiap pelanggaran berpotensi hukuman 15 tahun penjara.
Menginformasikannya kantor isu CNA, Rabu (15/5), perempuan berusia 28 tahun ini melakukan mogok makan tak lama sesudah ditahan dan seketika dipindahkan ke rumah sakit sebab keadaan sulit kesehatan.
Menurut pernyataan yang dikeluarkan oleh departemen pemasyarakatan, Netiporn – yang juga dikenal dengan julukan \\”Boong\\” – menderita kelemahan kaki dan lengan serta anemia.
\\”Dia menolak mineral dan vitamin yang dikasih oleh rumah sakit,\\” sebut pernyataan itu.
\\”Dia mengalami serangan jantung pada Selasa pagi dan tak responsif kepada pengobatan, yang menyebabkan dia meninggal dengan hening pada pukul 11.22.\\”
Reaksi PBB
Rumah sakit, ungkap departemen pemasyarakatan, akan melakukan autopsi untuk mengidentifikasi penyebab kematian.
Kantor Hak Asasi Manusia PBB (OHCHR) cabang regional Asia Tenggara mengatakan pihaknya \\”amat terganggu\\” dengan kematian Netiporn.
\\”Kami menyerukan penelusuran yang transparan dan tak memihak atas kematian dan perawatannya. Kebebasan berekspresi dan berkumpul secara tenteram yaitu hak mendasar,\\” sebut OHCHR melalui platform X alias Twitter.
Menurut Asosiasi Advokat Hak Asasi Manusia, setidaknya ada dua tahanan politik di Thailand yang melakukan mogok makan. Pada tahun 2023, dua orang Thailand yang melakukan aksi mogok makan yang ditahan menurut undang-undang penghinaan kerajaan dikasih pembebasan sementara sebab keadaan sulit kesehatan.